0

Drama Radio

Posted by Nida Yudhistira on 4:17:00 PM in

MANCING


PROLOG
Assalamu’alaikum wr. wb jumpa maning karo kelompok drama SMA Negeri 1 Cilacap. Siki kelompokku arep nyuguhaken darama radio singkat judule “Mancing” Selamat ngrungokna.

BABAK I
FADE IN
(01) MUSIK : Tune masuk pelan-pelan
(02) Ira : “Rani,, Rani,, Rani,, Rani…”
(Nida)
(03) Rani : “Apa siech melung-melung? Berisik.
(Osi)
(04) Ira : “Lach, apa koe nek di jeluk sepisan krungu?”
(Nida)
(05) Rani : “Ujare aku budeg?
(Osi)
(06) Ira : “Yeach, Mandan. He, ora ding lah. Ge wearunge deneng
(Nida) ditinggal? Ngko gari ana maling lah…”
(07) Rani : “Iya, koe malinge.”
(Osi)
(08) Ira : “Sech, aku kan anak baik da jujur.”
(Nida)
(09) Rani : “Jere?”
(Osi)
(10) Ira : “Mambu enak apa yha Ran? Lagi masak yach?”
(Nida)
(11) Rani : “Ibune lagi nggoreng bebek.”
(Osi)
(12) Ira : “Huwest, enek nech. Bagi-bagi loh.”
(Nida)
(13) Rani : “Gampang lah.”
(Osi)
(14) Ira : “Ship.”
(Nida)
(15) Rani : “Ran, nangapa bebek goreng kue enak?”
(Osi)
(16) Ira : “Jenenge ya panganan ya enak lah, nek ora enak ya ora bakal (Nida) dipangan nang wong-wong.”
(17) Rani : “Salah.”
(Osi)

(18) Ira : (PAUSE) Nangapa yha? Apa wiest njajal.”
(Nida)
(19) Rani : “Soale ana huruf ‘B’ne.”
(Osi)
(20) Ira : “Hegh? Apa hubunganne?”
(Nida)
(21) Rani : “Yha njajal nek huruh ‘B’ne ilang.”
(Osi)
(22) Ira :”Haha.. eek dong.”
(Nida)
(23) Rani : “Yha ora usah disebut kali. Oya, koe sie ngeneh-ngeneh arep
(Osi) ngapa?
(24) Ira : “Oya, anu kae si Surip nyengi mincing. Koe arep melu ora?
(Nida)
(25) Rani : “Mancing?”
(Osi)
(26) Ira : “He, aja ngeres. Ge mencing temenan.”
(Nida)
(27) Rani : “Oh, mincing nang ndi? Rawa bendungan?”
(Osi)
(28) Ira : “Yo’i.”
(Nida)
(29) Rani : “Tapi jerene rawa bendunagan mung akeh banyune tok. Iwake (Osi) langka.”
(30) Ira : “Apa iya?”
(Nida)
(31) Rani : “(PAUSE) Embuh ding. Tiliki disit nganah. Ana wong mancimg ora
(Osi) nang kana? Ngger sepi berati iwake uwis entong.”
(32) Ira : “Oh, yawis tak tiliki disit. Ngko ya…”
(Nida)
(33) Rani : “Yoo.”
(Osi)
(34) Ira : “Ran, ge tiliki ban pitku gembes ora? Mau keton abot banget.”
(Nida)
(35) Rani : “Ora koh.”
(Osi)
(36) Ira : “Oh. Yawis.. Assalamu’alaikum.”
(Nida)
(37) Rani : “Wa’alaikum salam.”
(Osi)
(38) 0m : “Permisi de. Ini warung kan?”
(Nugro)
(39) Rani : “Bukan. Warnet.”
(Osi)
(40) Om : “Masa sieh? Ko kaya warung?”
(Nugro)
(41) Rani : “Yha udah tau pake tanya.”
(Osi)
(42) Om : “Yha gak usah ngegas gitu dong. Ko sendirian? Ibunya mana?”
(Nugro)
(43) Rani : “Lagi di dalem. Kenapa?”
(Osi)
(44) Om : “Ngga pa-pa. Om mau beli rokok dong.”
(Nugro)
(45) Rani : “Kata ibu saya, rokok itu gak baik buat kesehatan om.”
(Osi)
(46) Om : “Ya udah, permen dech.”
(Nugro)
(47) Rani : “Kata ibu saya, permen juga gak baik. Ntar giginya sakit loh.”
(Osi)
(48) Om : “Yaudah, kalo gitu coklat aja.”
(Nugro)
(49) Rani : “Iech, ntar giginya item.”
(Osi)
(50) Om : “Es kelapa muda aja dech.”
(Nugro)
(51) Rani : “Dingin-dingin gini ko minum es sie om? Kalo pilek gimana?”
(Osi)
(52) Om : “Bapakmu mana?”
(Nugro)
(53) Rani : “Iech, bapak saya gak di jual om.”
(Osi)
(54) Om : (PAUSE) “Gak jadi!!”
(Nugro)
(55) Ira : “Eh, awas, awas om.”
(Nida)
(56) SUARA : Krining-krinig
(57) Ira : “Aduch, ati-ati dong om. Kalo jalan pake mata. Dodo banget
(Nida) siech?!”
(58) Om : “Kamu tu yang bodo. Nabrak aja gak kena.”
(Nugro)
(59) Ira : “Yee…. Setres!! Apa cengangas-cengenges Ran?”
(Nida)
(60) Rani : “haha. Lucu.”
(Osi)
(61) Ira : “Setres ke wong apa yach? Untung ora tak tabrak temenan.”
(Nida)
(62) Rani : “Halah uwis lah. Kpriwe rawane?”
(Osi)
(63) Ira : “Rawane rame koh. Tapi iya sieh. Akeh banyune tok langka iwake.”
(Nida)

(64) Rani : “Guech mbok. Lah terus piwe?”
(Osi)
(65) Ira : “Are apa mancing nang nggon simg banyune sitik tapi iwake
(Nida) akeh?”
(66) Rani : “Iya, nag ndi kuwe?”
(Osi)
(67) Ira : “Keh. Nang pasar.”
(Nida)
(68) Rani : “Asem. Yha karuan.”
(Osi)
(69) Ira : “Lah kowe aneh. Sing jenenge tempat mancing yha banyune akeh
(Nida) lah. Nek banyune sitik tapi iwake akeh y aura usah di pancing. Gari di reok be kena.”
(70) Rani : “Yha udu kaya kue maksudku.”
(Osi)
(71) Ira : “Lah, uwis lah. Cepet jukut pancinge. Surip wis nungguni nag rawa.”
(72) MUSIK : Musik sendu masuk
FADE OUT

Epilog
Cukup sekian draa musik kang kelomokku. Semoga ana manfaate. Maturnuwun. Wasalamu’alaikum wr.wb


Pemain :

(01) Ira (Nida Millaty, XI IA II, 27)
Fisiologis : Tinggi, Rambut lurus sebahu dan hitam, kulit sawo matang, mata sipit, hidung mancung, kurus.
Psikologis: Galak tapi baik, ceplas-ceplos, cerewet dan humoris.
(02) Rani (Osiany Nurlansah, XI IA II, 32)
Fisiologis : Ideal, agak pendek, hidung biasa, kulit sawo matang, rambut pendek, mata besar.
Psikologis: Baik, sedikit lugu, patuh, dan humoris.
(03) Om (Nugroho Sigit, XI IAII, 29)
Fisiologis : Tinggi, Hitam, kekar, berkumis, botak,ideal.
Psikologis: Penggoda dan emosian


Link ke posting ini |
0

SMILE 21

Posted by Nida Yudhistira on 8:37:00 PM in

Selasa, 1 April 2008 12.40pm (Kamar)


Tidak ada yang bisa aku lakukan lagi. Semuanya benar-benar sudah berakhir. Bahkan Riko sama sekali tidak pernah menanyakan kabarku. Sekalipun tidak pernah sms aku.


Aku bener-benar sudah idiot. Bahkan aku masih sangat berharap kalau Riko akan meminta maaf kepadaku dan menyadari kalau tidak ada yang bisa membuat dia bahagia selain aku. Apa benar semuanya sudah berakhir sekarang? Benar-benar tidak pernah terpikirkan olehku kalau semuanya Cuma akan sia-sia seperti ini. Semua pengorbananku seperti tidak ada artinya lagi.


Dia meninggalakanku di saat aku benar-benar menyukainya. Di saat aku sedang benar-benar mengandalkannya. Sekarang, aku hanya sendiri di tempat yang sepi ini. Yang gelap dan lembab karna air mataku yang tak pernah bisa berhenti. Tidak ada yang akan menyelamatkanku. Aku akan mati dan mongering seperti ikan asin di kubanganku ini.


Rabu, 2 April 2008 03.00pm (Kamar)


Ibuku berteriak-teriak seharian ini. Setelah bapakku meninggal, kami hanya tinggal berdua. Dan suaranya membuat rumah ini terlihat seperti tempat penitipan bayi. Berisik sekali. Dia terus-terusan mondar-mandir di samping tempat tidurku. Dan mengoceh seperti burung kelaparan.


Sampai kapan kau akan seperti ini Dynda? Ayolah, keluar dari tempat tidurmu.” Katanya sambil menarik selimutku dengan kasar.


Tidak ibu. Aku ingin disini. Memangnya aku harus kemana?” Benar. Memangnya aku harus kemana? Tidak ada lagi yang harus aku lakukan selain pergi sekolah untuk mengikuti remidi. Inilah tempatku. Kubanganku.


Pergi jalan-jalan. Bukankah itu yang sering kau lakukan dengan teman-temanmu? Seharian ini Chika terus menelpon. Apa lagi yang harus ibu katakan kepadanya karna kau tidak pernah mau menerima telponnya.”


Aku tidak ingin bicara dengan sipapun. Aku juga tidak ingin kemana-mana. Biarkan aku sendiri ibu.” Aku kembali menrik selimutku. Dan menutupkan seluruh badanku. Aku benar-benar berharap ibuku akan pergi dari kamarku. Aku benar-benar ingin sendiri.


Kalau kau tidak ingin kemana-mana, setidaknya makanlah Dynda. Empat hari ini kau hanya makan beberapa suap. Apa telingamu juga sudah tuli sampai tidak bisa mendengar perutmu yang kelaparan?” Ibuku kembali menarik selimutku tapi tidak bisa karna aku menahannya dengan kecang.


Aku tidak lapar.” Jawabku datar.


Oh, Haha. Benar. Kau kan superman. Tentu saja kau jelas akan tetap hidup tanpa makan sedikitpun. Maaf ibu lupa.” Aku memutar bola mataku dari balik selimutku.


Oh yha ampun, bukankah aku lebih terlihat seperti Catwomen?”


JANGAN BERCANDA LAGI DYNDA!!! Kalau kau tidak bergerak dari tempat tidurmu untuk makan sedikit saja, ibu akan membakar tempat tidurmu!!!” Untuk sementara ini aku berharap kalau aku benar-benar tuli.


Bukankah itu berarti ibu juga akan membakarku? Ibu akan tinggal dengan siapa kalau sampai aku mati? Oh, benar ibu akan tinggal dengan banyak tahanan di penjara.”


Baiklah. Ibu tidak akan memberimu toleransi lagi. Mau tidak mau, ibu akan membawamu ke psikiater!!!” APAH???????


Aku sama sekali tidak gila ibu!!!” Aku membuka selimutku dengan cepat. Psikiater??? Siapa yang mau kesana?? Orang gilapun juga pasti tidak mau ketempat itu. Ibu yang seharusnya ke psikiater.


Oh yha? Apa kau sungguh tidak menyadarinya? Bukankah di kamarmu ada Lemari kaca super besar? Lihatlah penampilanmu, kau bahkan lebih buruk dari sekedar orang gila. Cepat mandi dan habiskan makananmu!!!” Kemudian ibuku pergi. Kenapa tidak dari tadi saja? Lagian siapa yang mau bercermin? Aku bahkan sama sekali tidak perduli denagn kondisi badanku sekarang. Tidak akan ada yang mengomentari. Kenapa sih ibu tidak mengerti perasaanku? Aku sedang patah hati. Aku sedang menderita. Dan satu-satunya yang aku inginkan cuma sendiri. Aku tidak ingin makan. Atau bahkan hanya sekedar berdandan. Pergi ke sekolahpun aku sama sekali tidak memperdulikan penampilanku. Mungkin kalau aku sakit Riko akan menyesal telah memutuskanku, dan bersedia kembali kepadaku. Jadi tidak ada alasan untuk memikirkan kondisiku.


Kenapa ibu tidak juga mengerti? Andai ibu tau bagaimana rasanya patah hati. Oups, aku salah. Jelas ibu pernah merasa patah hati. Dan pasti jauh lebih menyakitkan dari pada ini. Dan dia berusaha untuk tetap tenang. Seharusnya aku bisa seperti itu. Aku jadi merasa bersalah. Oke, aku harus makan. Kalau tidak ibu akan benar-benar memwaku ke psikiater.

Link ke posting ini |
0

Lagu Sendu

Posted by Nida Yudhistira on 4:42:00 PM in
Ketika ku menangis tersedu
Kuingin dekatmu
Jika kuingin lepaskan rindu
Sandarkan diri di bahumu

Namun karna sesuatu
Dan itupun salahku
Tak dapat kau terima
Kaupun berlalu

Ketika ku menangis tersedu
Tanpa dirimu hatikupun kelu
Namun karna sesuatu
Dan itupun salahku

Tak dapat kau terima
Kaupun berlalu
Ketika ku menangis tersedu
Tanpa dirimu hatikupun kelu

Reff :
Andai kuulang waktu
Kukan kembali ke masa itu
Dan ku kan hindari kesalahanku

Kisah kasih syahdu
Sayang semua berlalu
Akankah kembali kisah itu
Ku tak tahu .. uu…uu

Link ke posting ini |
4

maafin aku nda

Posted by Nida Yudhistira on 4:30:00 PM in
hampir semua yang ada di dirinya aku tahu...
mungkin bukan hampir...
tapi 100% yang ada di dirinya aku paham.
dua tahun lebih, aku udah ada di sampingnya..
Dan dalam waktu dua tahun itu, aku benar-benar bisa mengenalnya.

Tapi kenapa kesalahan ini tetap aku lakuin?
Aku tau, sebelum aku melakukan kesalahan ini, kejadian ini pasti bakal ada.
Tapi aku benar-benar bodoh..
Aku tetap tidak bisa berterus terang.
Padahal aku sendiri tau, setiap aku berbohong...
Pada akhirnya pasti dia tau..

Aku tau aku salah..
Tapi sudah terjadi..
Aku sudah tidak jujur.
Dan dia sudah marah...
Kini, aku hanya bisa menunggu di maafkan..
Dan aku akan menerima semua hukumannya...
Aku tau, aku harus bisa bertanggung jawab sama semua yang udah aku lakuin..

maafin dyn yha nda...
Love you...

Link ke posting ini |
0

OSPEK UNY

Posted by Nida Yudhistira on 8:33:00 PM in
Cape... Pantatnya tepos... punggung pegel.. Kedonginan.. dan batuk..

Itu kesan pertama dan paling utama yang aku ambil dari ospek seminggu dua hari kemarin..
hahhhhh.........
Entah apa manfaatnya aku ngga ngerti...
berangkat dari sebelum matahari terbit, dan puLang seteLah matahari terbenam.
Bener-bener ngLeLahin banget.
Dan seLama Lima hari itu, cuma punya acara duduk-duduk buat dengerin diskusi-diskusi di ruangan ber AC..
But it's fun Lah..
Bisa punya temen-temen dari berbagai daerah..
Dari yang ngapak sampai ke yang sunda..
Dan mencoba menikmati semua...
Meskipun punggung pegel..
Tetep SEMANGAT!!!!

Yang penting adalah...
AKU MAHASISWA....
Hahahaha

HIDUP MAHASISWA INDONESIA!!!!!!!
(Yang seLaLu di teriakin saat OSPEK. Ngga ngerti deh apa maksutnya)

Link ke posting ini |
NIDA MILLATY BLOG says ADA KO YANG TIDAK MUNGKIN. but Live is beautifuLL. So, Jangan pernah sia-siain hidup

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Copyright © 2009 Hidup untuk Bercerita All rights reserved. Theme by Laptop Geek. | Bloggerized by FalconHive.